Dua Perusda Berau Dipanggil DPRD: Satu Sumbang PAD, Satu Justru Jadi Beban
TANJUNG REDEB, Berauinfo.id – Sorotan tajam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau terhadap kinerja perusahaan milik daerah akhirnya berujung pada rapat dengar pendapat (RDP) bersama dua Perusahaan Umum Daerah (Perusda) yang dinilai gagal memberikan kontribusi nyata bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Setelah dikritik keras dalam rapat paripurna pengesahan Anggaran Perubahan Daerah (APBD-P) 2025 oleh Fraksi NasDem dan PDI Perjuangan, dua Perusda yakni Indo Perkasa Berau (IPB) dan Hutan Sanggam Berau (HSB) dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya di hadapan Komisi II DPRD Berau.
Namun hasilnya jauh berbeda. Dari dua perusahaan tersebut, hanya HSB yang dianggap masih mampu membuktikan eksistensinya sebagai badan usaha daerah yang sehat dan produktif.
“Kita tidak membandingkan, tapi faktanya HSB satu-satunya Perusda yang terbukti menyumbang PAD,” tegas Anggota Komisi II DPRD Berau, Agus Uriansyah, usai rapat, Selasa (7/10).
Menurut data yang disampaikan manajemen, HSB berhasil menyetor sekitar Rp1,9 miliar ke kas daerah tahun 2025. Tak berhenti di situ, perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang kehutanan itu kini mulai melebarkan sayap bisnis ke sektor hortikultura, seperti tanaman jagung dan rencana pengembangan padi.
“HSB sudah tidak lagi bertumpu pada kayu bulat. Mereka mulai diversifikasi usaha, dan itu langkah yang patut diapresiasi,” tambah Agus.
Berbanding terbalik dengan IPB, perusahaan yang bergerak di bidang energi tersebut justru dinilai tenggelam dalam masalah internal dan kerugian. Dewan bahkan menilai kinerja IPB jauh dari harapan dan minim akuntabilitas.
“Dari hasil RDP, IPB itu minus besar. Begitu rapat selesai, pihaknya malah langsung pergi tanpa penjelasan tuntas,” sindir Agus tajam.
Kondisi ini menambah panjang daftar Perusda Berau yang dinilai tidak mampu berkontribusi pada peningkatan PAD, padahal terus mendapatkan suntikan modal daerah setiap tahunnya.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Berau berencana membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menginvestigasi lebih dalam seluruh Perusda yang dinilai bermasalah, termasuk IPB dan Bhakti Praja.
“Kami akan bentuk Pansus untuk mengevaluasi kinerja dan mencari akar persoalan kenapa Perusda ini terus merugi,” tegas Agus.
Menariknya, ketika wartawan mencoba melakukan konfirmasi langsung kepada Direktur Utama IPB usai rapat, yang bersangkutan tampak menghindar dan menolak memberikan keterangan. Ia memilih meninggalkan gedung dewan tanpa sepatah kata pun, memperkuat kesan bahwa perusahaan tersebut enggan membuka transparansi di hadapan publik.
